Halaman Depan » Artikel

Meneguhkan Rembang Kota Santri

15 February 2009 1,286 views 21 Komentar

Terletak di pantai utara Jawa, Rembang menjadi daerah yang dikenal sebagai penghasil garam. Rembang juga terkenal karena tokoh emansipasi perempuan RA Kartini. Bukan hanya itu, daerah ini dikenal sebagai kota santri, karena memiliki banyak pondok pesantren. Pesantren-pesantren besar dapat ditemukan di berbagai penjuru Rembang.

Di Kota Rembang yang terletak di bagian barat, tepatnya di Leteh, terdapat pesantren-pesantren yang diasuh para kiai yang reputasi nasional, seperti KH Musthofa Bisri (seniman-penyair), serta Cholil Bisri (almarhum, tokoh PKB). Ada pula Pondok Pesantren al-Furqan di Kasingan, yang menurut catatan sejarah merupakan cikal bakal pesantren-pesantren di Kota Rembang.

Di bagian tengah, pusat pesantren terdapat di Kota Lasem, yang pernah melambungkan nama ula-ma besar KH Ma’shum (alm) dari Pesantren al-Hidayat dan KH Khalil (alm) dari Pesantren an-Nur.

Kedua pesantren itu berada di Desa Soditan. Nama Bani Ma’shum makin terkenal karena prestasi intelektual yang dicapai putera KH Ma’shum, yakni Ali Ma’shum, yang kemudian memimpin Pondok Pe-santren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Sedangkan di ujung timur Rembang, pusat pesantren berada di Kecamatan Sarang yang diasuh oleh KH Maemun Zubeir, seorang ulama yang sangat berpengaruh di PPP.

Awalnya, pondok pesantren menjadi pusat pendidikan agama yang mengambil posisi nonakomodatif terhadap pendidikan modern ala Belanda. Di pesantren, para santri hanya mempelajari ilmu-ilmu agama yang meliputi teologi, fikih, dan tasawuf, di samping mempelajari ilmu-ilmu alat: sharf dan nahwu (tata bahasa Arab).

Ilmu alat sangat diperlukan, karena kitab-kitab yang dipelajari adalah kitab kuning yang rata-rata tak menggunakan tanda-tanda baca atau harakat. Membaca dan memberi arti secara benar tak mungkin bisa dilakukan jika tidak menguasai ilmu alat dengan baik.

Meski terdapat berbagai disiplin ilmu agama yang dipelajari, disiplin fikih dapat dikatakan sangat dominan. Fikih dipandang sebagai disiplin ilmu untuk melaksanakan amal ibadah dan aktivitas kehidupan keseharian.

Disiplin teologi tidak banyak dipelajari, karena lebih banyak bergulat di wilayah pemikiran spekulatif yang oleh kebanyakan ulama dikhawatirkan akan menyebabkan kebingungan dan kebimbangan. Karena itu, biasanya pelajaran teologi hanya diberikan dalam proporsi yang tidak banyak, dan para santri lebih ditekankan kepada sikap doktriner.

Sedangkan tasawuf menjadi kurang dipelajari, karena terdapat semacam kesalahpahaman bahwa tasawuf merupakan ilmu kaum tua. Karena itu, jarang santri muda yang ikut dalam pengajian kitab-kitab tasawuf. Rata-rata yang mempelajari kitab-kitab tasawuf dan masuk ke dalam tarekat adalah mereka yang sudah berusia separo baya.

Pendidikan Umum

Lasem di masa hidup KH Ma’shum dan KH Khalil pernah mendapatkan julukan sebagai kanz al-’ilmi (gudang ilmu). Itu karena keduanya dipandang sebagai ulama yang sangat mumpuni dan pernah berguru langsung kepada para penulis kitab-kitab yang cukup monumental. KH Khalil pernah berguru kepada Syaikh Mahfudh al-Turmusi di Makkah, dan selama bertahun-tahun menjadi katib khash (sekretaris khusus)-nya.

Karena popularitas sebagai gudang ilmu inilah, banyak santri datang dari berbagai daerah yang secara geografis sangat jauh, bahkan tak sedikit dari luar Jawa. Mereka datang dari jauh, semata-mata untuk memperdalam ilmu agama. Setelah kembali ke tempat asal, biasanya mereka yang memiliki prestasi menonjol mendirikan pesantren dan menjadi ulama di daerah masing-masing untuk memperkuat pendidikan agama Islam.

Seiring perjalanan waktu, pondok-pondok pesantren kemudian mengizinkan para santrinya untuk juga menuntut ilmu-ilmu umum di sekolah umum, baik SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA. Bahkan tidak sedikit pesantren yang mendirikan sekolah umum di lingkungan pesantren sendiri.

Pondok Pesantren al-Furqan kini telah memiliki sekolah terpadu, mulai TK sampai SD Islam. Bahkan Ponpes al-Hidayat sudah memiliki MA. Karena itu, para santri dapat merambah pada lingkup disiplin ilmu yang lebih luas di luar disiplin ilmu agama. Setamat dari pesantren, tidak sedikit santri yang juga menempuh pendidikan umum melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi agama atau perguruan tinggi umum.

Karena basis pendidikan agama yang mendalam di pesantren, juga penguasaan ilmu alat yang lebih baik, biasanya santri yang melanjutkan ke perguruan tinggi agama menjadi mahasiswa yang menonjol. Sebab, mata kuliah agama di perguruan tinggi agama sebenarnya tidak begitu jauh berbeda dari pelajaran agama di pesantren.

Bahkan bisa dikatakan cenderung mengulang pelajaran-pelajaran di pesantren. Karena itu, mahasiswa yang memiliki basis pendidikan pesantren mampu mengikuti pendidikan tinggi dengan lebih cepat, dengan hasil memuaskan, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menjadi tenaga pengajar (dosen) di IAIN/UIN. (32)

— Mohammad Nasih, pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Mlagen, Pamotan, Rembang.


iklan t-shirt

Berita lainnya pada kategori ini :

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Telah ada 21 Komentar pada tulisan ini »

  • setio wahyono said:

    Sebuah artikel yang mengingatkan aku, potensi santri yang begitu besar dan sangat menjanjikan untuk menjadikan rembang kota yang besar dan terdepan di kesejahteraan.
    saya selalu ingin berpikir terbalik, santri akn selalu menjadi mubalig besar atau kondang, atau kah akan menjadi sebuah pribadi yang mampu menerjemakan sebuah wawasan keagamaan menjadi bentuk “santripreneur”. yang terakhir kayaknya sangat bagus..
    “santripreneur” santri yang berjiwa entrepreneur yang akan memperkuat komnitas pengusaha muslim indonesia. adakah santripreneur di pesantren rembang.

  • kang topa said:

    :santripreneur: kayaknya ada tuh di lasem, GUS ZAIM (cucu mbah maksum) kalo gak salah looo.

  • badak said:

    Bagus, mari kita wujudkan kota rembang yang beriman dan bertaqwa. aling tidak kita berharap agar rembang menjadi kota yang bebas dari judi dan minuman keras. Itu adalah minimalnya.

  • Nokiyem E95 said:

    Kejayaan pesantren di rembang-lasem sebenarnya sudah lama berakhir. Sepeninggal kyai2 hebat semisal: mbah bisri mustofa di rembang, mbah maksum, mbah baidhowi, mbah khalil, mbah masduqi di lasem, kilau rembang khususnya kota lasem (lebih dominan pengaruhnya saat itu dibanding Rembang) sbg lumbung ulama di zaman keemasannya mulai memudar. Pergerakannya semakin bergeser ke arah timur, untung wilayah kabupaten masih diselamatkan oleh pesantren Sarang yang pada saat pesona lasem kian memudar, pada dekade sekarang sarang tampil di permukaan. Pamornya kian menanjak dan termasuk pesantren besar di wilayah jawa. Jujur saja, ada satu hal yang mengganggu saya jika bicara tentang pesantren di lasem, mungkinkah mengembalikan kejayaan Lasem sebagai kota santri? Karena saya melihat lasem tak lebih dari hasil kompromi antara idealis pesantren dan tuntutan zaman (baca sekolah). Keduanya saling tarik-ulur. Dan terkadang tuntutan zaman lebih dimenangkan.

  • mohammad nasih said:

    Di Mlagen, para santri mulai saya arahkan untuk menggeluti dunia sesuai dengan kecerdasannya. Yang punya kecerdasan musikal, saya fasilitasi untuk bermusik dengan profesional. Yang terbiasa beternak, diarahkan untuk “ngrumat” sapi. alhamdulillah pesantren al-falah memiliki 108 sapi. Memang sempat ada yang mati dua ekor. Tapi sudah ada 18 ekor yang “nganak”. Berbagai usaha yang lain, saat ini sedang dikembangkan,terutama yang dapat menunjang kecerdasan finansial mereka.
    Salam
    Mohammad Nasih

  • ana maghfuroh said:

    Santri juga bs menjadi politikus yang handal. Dan saya berharap Mas Nasih bisa terpilih menjadi anggota DPR RI dalam Pemilu 2009 mendatang. Wong Rembang perlu memberi dukungan kepada panjenengan sebagai kader muda Rembang yang akan memperjuangkan Rembang dari level nasional.

  • sunoko said:

    salam kenal dg pak nasih, saya dari jape, pamotan. Saat ini saya bekerja di smg. Mudah2an rembang makin maju dan makmur. Sukses selalu. Amiin

  • siti m said:

    Ass Wr Wb…
    salam kenal dengan ibu/bp/sdr/sdri orang rembang, saya dari lasem ex smp negeri lulus th 1982, skr saya bekerja di smg. lasem yg terkenal dgn kota santrinya, mudah2an tetap langgeng.
    wass wr wb…

  • M. Syafi' Mukarrom said:

    Ass. Wr. Wb
    Salam kenal dengan orang-orang rembang. rembang kota kelahiran saya yang sudah 11 tahun aku tinggalkan merantau di Tulungagung Jawa timur, aku merasa sbg orang rembang mempunyai karakter berbeda dari daerah lain, punyai kemauan keras dan nuwun sewu agak sedikit kasar. saya dl nyantri di pondok Bicharul Muta’allimin sedan rembang, kemudian nyantri di PPHM tulungagung, dan sekarang kalo pagi mengajar di SMA Islam Sunan Gunung Jati dan sore ngajar di STAI Diponegoro, semoga rembang jaya di mana-mana.

  • M. Syafi' Mukarrom said:

    Kalo boleh urun rembuk lasem sebagai kota santri memang sudah kehilangan auranya dibanding lasem tempo dulu, saya melihat dari jauh bahwa pesantren di lasem kurang responsif ketika melihat perkembangan masyarakat yang pola pikirnya, perilaku dan gaya hidup berubah, masyarakat sekarang membutuhkan lembaga pendidikan yang menjamin kesuksesan hidup dunia juga akhirat maka seharusnya pesantren di lasem harus mengembang 2 bentuk pendidikan terpadu pendidikan umum dan pesantren dalam satu lingkungan. pesantren di lasem saya melihat hanya menjadi tempat kos para siswa/siswi sehingga sikap akhlakul karimah sudah tidak menjadi ciri khas para santri di pesantren

  • agus asli c2n said:

    alhamdulillah….lasem sarang dan leteh masih di sebut kota santri
    tapi sedan kok gak di sebut ya… padahal tukang becak di sana katanya hafal alfiyah…suasana nya juga masih asli santri……..banyak ulama top di sana bahkan putra ulama sekliber habib tohir al-kaff saja mondok di sana tepat nya di K.H.minanurrahman waru,sedan

  • didik gunung gareng said:

    mas…. nggak sah ribut masalah santri ah… dunia ini “lahir hidup mati” dan sebelum datangnya lima perkara kita meski manfaatkan serbaik baiknya.. kita manfaatkan hidup sebelum mati,kita ada sehat sebelum sakit,kita ada muda sebelum tua,kita ada duit sebelum krisis,kita ada kesempatan sebelum nggak ada sama sekali.
    yang penting kita sama sama ingat dari mana dan untuk apa serta kemana kita kelak…dari Rosul Adam dan sekarang Rosul Muhammad serta kemana kita mau…kan ada dua tujuan bukan….pokoknya orang tua kita makan dari yang tumbuh dibumi jadi darah jadi sperma jadi benih 9 bulan dan lahir terus belajar terus menikah terus ngurus keluarga terus tua terus mati dan nggak bisa mandi sendiri ataupun mengkubur sendiri jadi kita meski hablum minannas juga selain hablum minaALLOH…dan banyak hal lah dalam hidup yang Alloh anugrahkan ini,kita sudah lama hidup kan… sampai nanti ketemu di sana ya…mungkin Alloh akan kasih tempat sendiri untuk wong rembang…oh ya saya juga keluaran pon pes Bicharul Mutta’alimin. mas safi’ yang berkacamata salam dari saya ple’an karang kulon..dan salam buat temen temen sedan juga semua wong rembang.matursuwun suanget mas.wslm.

  • masjoe said:

    ya…bagaimanapun juga eksistensi pondok pesantren diseluruh wilayah Rembang sangat dibutuhkan, setidaknya dari sanalah akan terlahir generasi-generasi berkarakter sholih dan bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya :)

  • A.umoro said:

    Walaupun dikenal sebagai kota religius/santri,tapi justru dalam pengamatan saya, banyak penduduk asli lasem yang kurang bahkan tidak mau belajar agama dipesantren2 yang ada,sehingga masyarakat pribumi lasem sebagian besar hanya sebagai penonton ditengah kesibukan tolabul ‘ilmi kususnya ilmu agama.Paling-paling hanya belajar pada ustadz-ustadz kampung yang sekarang ini sudah jauh berkurang,sehingga dikhawatirkan generasi-generasi mendatang sudah tidak lagi menikmati keberkahan sebuah ilmu agama,ini merupakan ancaman yang serius yang harus segera dicari solusinya.Saya usulkan seharusnya setiap pesantren harus menyiapkan santri2nya memberikan pengajaran agama diwilayah masing2 kepada masyarakat secara ikhlas,gratis,sebagai bentuk tanggung-jawab sosial kepada lingkungan sekitarnya.Sehingga diharapkan keberkahan kota santri tetap terjaga dan dapat dinikmati generasi-generasi mendatang.amiin…….teruslah bersinar lasem….

  • rohman cah mlagen said:

    kata SANTRI kayaknya hanya tinggal sebutan Doank…!!
    karena sudah banyak anak yang disebut santri tapi perangainya tak seperti SANTRI…

    buat administrator web ini:
    -komentarnya di ORDER By date, dengan DESC aja biar pesan yang baru kelihatan di atas bukan paling bawah

    thanks!!

  • muslih said:

    Assalamu alaikum…..!salam kenal dariku bpk kiai NASIH….!yang berada di MLAGEN CITY…!saya setuju sekali dengan metode yang bapak ajarkan…!disamping bapak ajarkan keagamaan bpk juga ajarkan metode pertanian,peternakan dll…semoga metode bpk bisa berhasil dan santrinya tambah banyak lagi AMIIIIN,dan ku mau nitip salam buwat tmen2 smua yg di MLAGEN(anak NGEGER)

  • irhaby c2n said:

    salam knal orang2 rembang,ni aku orang c2n ,aku nyari orang2 c2n yg online bwat sharing2 seputar daerahku sana,karna dah lama aku ga ke c2n,n skrang aku di yogyakarta

  • Wong Mlagen said:

    Pesantren di daerah lasem menurut saya kehilngan gregetnya. santri menjadi santri “tanggung”, “ilmu kepesantrenan” setengah-setengah. Apalagi tradisi sebaai santri. Sekolah dengan gaya formal mengikir “nalar” sekaligus “tradisi” pesantren.
    Polah tingkah sistem pendidikan formal dengan bingkai “modern” menyilaukan. pesantren gagap dalam merespon hal ini. antara diri yang tradisional dan kemodern mengalami kebingungan.akhirnya “bingun ra nggenah” untuk untuk menentukan jadi diri pesantren sendiri, apalagi membangun “jiwa, nalar, dan tradisi santri.” kegagapan menghadapi segala yang modern dengan nalarnya yang positifistik dan realistis di segala lini, membuat pesantren bingung dalam posisi. Sering karena masuk dalam nalar dan tradisi “modern” yang lama dicaci. sedangkan yang lama sendiri tidak sadar bahwa semuanya berubah. perubahan nalar dan tradisi terkadang harus, tetapi sejauh mana?
    Memang “pesantren” masih melekat dan dianggap tradisi. tetapi tradisi ini hanya ada pada “keark” kesadaran, bukan pada “esensi” diri yang juga mengendap dalam “nalar ketidaksanaran”!
    Jika dipandang dari sisi tradisi, maka santri sendiri merupakan pihak yang paling mudah sekali “dikonsumeriskan”. bukan hanya dalam tataran nalar, tetapi tradisi.lihat bagaimana gaya hidup mereka dalam memanfaatkan teknologi yang sudah menjadi “lifestyle”, atas dasar “need”. hal ini menurut saya karena ketidakmampuan ber”makrifat” makrifat sendiri di sini adalah “ma’rifat an-nafs”. artinya mengetahui diri. posisi diri di mana dalam kehidupan, dalam tataran yang paling kecil (mikrokosmik) hubungannya dengan Gusti Allah sampai dengan tataran besar (makrokosmik. di sini pembacaan posisi diri secara keagamaan, budaya, sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya lazim dimiliki oleh santri. tujuannya adalah agar mereka mengetahui “lungguhnya di mana”? lantas harus bagaimana?
    namun seakan semuanya menjadi lenyap. santri yang seharusnya “tanggap sasmitha” karena pembacaan “lungguh di mana” tidak hanya dengan pendekatan eksperimentalisme dan realisme, tetapi dengan pendekatan holistik dengan menyertakan pembacaan non-eksperimentalis-posifistik. semua sisi alam, termasuk alam fisik, realitas, nabati, hewani,dan spiritual dibaca tidak hanya dengan indera dan rasio, tetapi penyingkapan yang “batin” juga
    disertakan. tetapi bagaimana sekarang?
    banyak ulama yang ditinggalkan oleh umat. hal ini sangat wajar. barangkali karena dulunya mereka “adem” bisa “ngiyupi”, sekarang sudah panas dan sama sekali tidak menyejukkan lagi.
    dari sini, lantas wong rembang mau apa?
    mengandalkan pesantren, kyai dan santrinya untuk maju? apakah mereka masih bisa diharapkan?
    para intelektualnya? Mung Gusti Allah sing ngerti

  • Mahmudi Cah Mlagen said:

    Saya dari mlagen yang sekarang kerja di Semarang.Menurut saya di daerah saya (Mlagen), sekarang banyak pemuda2 yang malas “SOBO” masjid. Banyak anak muda yang waktunya sholat malah main gitaran di per3an atau perempatan, sudah tidak sungkan lagi kalau ketemu sama Kyainya di pinggir jalan.Masjid mlagen saja sekarang sepi, pemudanya banyak yang merantau dan kalau sudah pulang dari merantau mereka seolah2 sudah enggan pergi ke masjid.Yang sering jama’ah di masjid palin cuma anak kecil,mbah2. Menurut saya ada betulnya juga DAWUHNYA (SINDIRAN)Mbah Halim (Imam masjid Mlagen ) gini “JAMA’AH KUWI KANGGONE BOCAH CILEK,WONG WEDOK, KARO WONG TUWO”.
    Jadi saya sangat berterimakasih dan salut banget buat Pak Nasih yang telah berjuang untuk Islam di Mlagen dan Kota Rembang umumnya.

    Semoga Kota Rembang dan sekitarnya masih seperti yang dulu, menjadi kota santri, kota Kyai yang selalu mendapat Ridho dan Berkah dari Alloh ‘Azza Wa Jalla Amiin.
    Sekian terimakasih.

  • nur aliyah said:

    ya saya setuju sekali jika rembang dinobatkan kota santri,tapi saya pikir itu tempo doloe,karena untuk saat-saat ini saya prihatin sekali karena generasi2 penerus yang salah gaul,saya ngeri melihat dan mendengarnya karena kayaknya miras masih merajalela dikalangan remaja,dan kayaknya miras seperti minuman sehari-hari untuk pengobat haus.saya berharap semoga rembang apalagi kecamatan sedan kembali seperti dulu lagi,kota santri yang bisa mencetak ustad-ustdzah yang handal yang lain dari yang lain

  • abdus shomad c2n said:

    assalamualaikum
    mugo2kabeh wargo rembang sami wilujeng!
    sebagai santri ane prihatin dengan kwalitas santri saat ni,belum
    lagi kekurang sadaran santri sebagai santri!
    intine ane arep ‘ajak siro kabeh ayo urip2 agomo islam,ojo gelem kalah karo wong seng mangsiat!lawan kema’siatan dg mensyiarkan keislaman kita!
    by abdus shomad menoro sedan.
    wassalam

Anda ingin memberikan komentar pada tulisan ini?silahkan... :)

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Anda ingin menampilkan gravatar/avatar atau foto anda dalam komentar anda di website ini? anda bisa daftar dulu di Gravatar. Setelah Anda daftar, setiap anda mengkomentari tulisan di web ini masukkan alamat email yang telah anda daftarkan.